Ketika Virus Zika Menyapa

Sejak awal 2016, dunia dihebohkan dengan berita-berita tentang penyakit yang disebabkan oleh Virus Zika. Apa itu? Virus jenis ini pertama kali ditemukan tahun 1947 pada monyet di hutan Uganda. Sejak 1952, virus ini berkembang secara sporadis dalam jumlah kecil yang ditandai dengan adanya pasien-pasien yang tertular virus ini di negara-negara Afrika, Amerika Latin dan Asia.

Namun dunia dikagetkan oleh laporan dari Brasil pada Oktober 2015 yang memberitakan bahwa kasus mikrosefalia (kepala kecil pada bayi) melonjak dari 147 kasus pada 2014 menjadi 3.893 kasus pada 2015. Puluhan bayi meninggal dan hampir 300 kasus mikrosefalia berhasil dibuktikan berkaitan dengan infeksi virus Zika.

Lonjakan kasus infeksi virus Zika yang demikian masif menyebabkan munculnya suara-suara yang menyarankan agar olimpiade yang sedianya berlangsung Agustus 2016 di Brasil dipindahkan.

Negara-negara Eropa seperti Belanda, Italia, Portugal dan Spanyol mendeteksi penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti ini pada beberapa warga mereka setelah mengunjungi negara-negara Amerika Selatan. Penegakan diagnosa pasti infeksi akibat virus Zika ini tak mudah. Di Indonesia, hanya bisa dilakukan oleh Lembaga Biomolekular Eijkman dan oleh Balitbangkes Kementerian Kesehatan.

Namun bukan diagnosa definitifnya yang terpenting, tapi kecurigaan ke arah ini sudah harus membuat kita waspada. Gejala-gejala infeksi virus Zika mirip dgn gejala-gejala pada Demam Berdarah Dengue (DBD) yaitu:

  1. Demam mendadak, biasanya tak terlalu tinggi yakni sekitar 38 derajat Celcius
  2. Lemas
  3. Nyeri pada otot dan sendi
  4. Bercak-bercak merah di badan dan ekstremitas
  5. Mata merah karena radang konjungtivitis

 

Pengobatan spesifik atau vaksin pencegahan terhadap penyakit ini belum ada. Kalau ada kecurigaan telah terjadi infeksi yang disebabkan virus Zika, langkah pengobatan yang dapat dilakukan adalah:

  1. Minum cairan yang banyak untuk mencegah dehidrasi, sebaiknya dicampur Oralit untuk mengganti elektrolit yang hilang
  2. Minum obat penurun panas, misalnya parasetamol
  3. Istirahat yang cukup
  4. Makan buah-buahan yang mengandung vitamin C seperti buah jeruk
  5. Konsumsi makanan bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh

 

Walaupun Indonesia secara umum belum terjangkit wabah virus Zika, namun virus ini sudah pernah terdeteksi secara tidak sengaja pada seorang pasien pria di Jambi pada 2015 silam oleh Lembaga Eijkman (Kompas, 30 Januari 2016) tatkala memeriksa sampel darah pasien tersangka DBD.

Mengingat Indonesia adalah negara endemik nyamuk Aedes aegypti, tidak tertutup kemungkinan bahwa virus Zika sudah menginfeksi lebih dari satu orang yang secara definitif telah terdeteksi dalam darahnya. Karena sulit mengidentifikasinya, baru satu kasus yang dapat dilaporkan.

Setelah beberapa dasawarsa menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti, Indonesia masih belum berhasil membasmi jentik-jentiknya secara signifikan. Setiap tahun, terutama di musim penghujan, selalu muncul Kejadian Luar Biasa (KLB) demam berdarah.

Hendaknya kita melakukan pencegahan sebelum penyakit ini mewabah. Caranya sama seperti pencegahan DBD yaitu membasmi nyamuk Aedes aegypti di sarangnya dan mencegah gigitannya.

Membasmi nyamuk Aedes aegypti ini bisa (dan efektif) dengan cara 3M yaitu menguras bak yang ada airnya, menutup tempat-tempat penyimpanan air (seperti gentong) dan mengubur benda-benda yang bisa menyimpan air (seperti kaleng-kaleng bekas).

Penyemprotan secara berkala juga efektif mengurangi jumlah  nyamuk. Untuk mencegah gigitan nyamuk berbahaya ini, kita dapat memoles tangan, kaki dan wajah dengan lotion. Dan jangan lupa mengenakan pakaian yang tertutup.

Walaupun secara ilmiah belum bisa dibuktikan kausalitas antara infeksi virus Zika dengan terjadinya mikrosefalia, melonjaknya kasus bayi-bayi yang lahir dengan mikrosefalia pada ibu yang terbukti terserang infeksi virus Zika saat hamil (di Brasil), mengharuskan kita untuk ekstra hati-hati karena bayi-bayi dengan mikrosefalia (kepala kecil) ini membawa pilu dan banyak persoalan di kemudian hari.

Memang kita tak perlu takut, namun kewaspadaan harus ditingkatkan. Belum ada kebijakan dari pemerintah Indonesia untuk menyarankan penundaan kehamilan kepada wanita-wanita usia produktif seperti yang diterapkan sementara oleh pemerintah negara-negara Amerika Latin. Yang pasti, kita harus lebih bersungguh-sungguh memberantas nyamuk Aedes aegypti di lingkungan kita.

Lembaga kesehatan Amerika Serikat, Centre for Disease Control and Prevention (CDC) mengategorikan Indonesia, Kamboja, Thailand, Malaysia, Filipina dan Maladewa sebagai daerah waspada virus Zika, sedangkan Karibia dan Amerika Latin diberi status peringatan bahaya virus Zika.

Bagi kita, berlaku “mencegah adalah lebih baik dari pada mengobati” seperti yang selalu dinasehatkan pepatah lama para tetua: “sedialah payung sebelum hujan.” Nasihat ini perlu diterapkan betul karena taruhannya adalah nyawa kita semua.

Ditulis oleh: dr. Lie A. Dharmawan, PhD, FICS, SpB, SpBTKV
(Pendiri doctorSHARE)

-doctorSHARE clinic-

Sumber foto: http://qcostarica.com/

*db*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s